7 Golongan Hamba Yang Dilindungi Allah Pada Hari Kiamat
Rasulullah bersabda: ”Tujuh hamba yang akan dilindungi Allah pada hari kiamat nanti
- Pemimpin yang adil
- Pemuda yang tumbuh dewasa yang hobbynya beribadah pada Allah padahal disaat nafsunya bergejolak
- Hamba yang hatinya selalu terikat pada masjid, senangnya berjamaah dan beraktivitas ke mesjid
- Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul, berjumpa, bersahabat karena Allah dan berpisah karena Allah pula
- Seorang hamba lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah”
- Hamba yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya, ikhlas karena Allah
- Hamba yang berdzikir dan berdoa kepada Allah dalam keheningan malam, dalam kesendiriannya, dalam muhasabah dirinya lalu ia menitikkan airmatanya.”
(Tafsir hadist HR. Bukhari Muslim)…
Sumber: Republika Online 2012/04/16
Jangan Mengganggu Binatang, Walaupun Semut
Dari 'Abdullah bin Mas'ud r.a, ia berkata: "Pada suatu kesempatan kami bersama Rasulullah saw. dalam sebuah perjalanan. Kemudian beliau pergi untuk menunaikan hajatnya. Lalu kami melihat hummarah (burung kecil) bersama dua anaknya. Kami menangkap kedua anak burung tersebut. Maka induk burung tersebut membentangkan sayapnya.
Kemudian datanglah Rasulullah saw dan berkata: Siapakah yang telah mengganggu induk burung ini dengan menangkap anak-anaknya? Kembalikanlah anak-anak burung tersebut kepada induk-nya.
Kemudian beliau melihat sarang semut yang telah kami bakar.
Beliau bersabda: 'Siapakah yang telah membakar sarang semut ini?'
"Kami!', sahut kami.
Rasulullah berkata: 'Sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabb Yang telah menciptakan api',"
(Shahih, HR Abu Dawud [2657]).
Dalil Qunut dalam Sholat 5 Waktu
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah qunut selama satu bulan secara terus-menerus pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, Isya dan Shubuh di akhir setiap shalat, (yaitu) apabila ia mengucap Sami’Allahu liman hamidah di raka’at yang akhir, beliau mendo’akan kebinasaan atas kabilah Ri’lin, Dzakwan dan ‘Ushayyah yang ada pada perkampungan Bani Sulaim, dan orang-orang di belakang beliau mengucapkan amin.
- [HR Abu Dawud [al-Musnad (I/301-302)],
- Ibnul Jarud [Mustadrak (I/225-226)],
- Ahmad [Sunanul Kubra (II/200 & II/212)],
- al-Hakim dan al-Baihaqi [al-Musnad III/115, 180, 217, 261 & III/191, 249].
Dan Imam al-Hakim menambahkan bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus para da’i agar mereka (kabilah-kabilah itu) masuk Islam, tapi malah mereka membunuh para da’i itu. ‘Ikrimah berkata: Inilah pertama kali qunut diadakan. [Lihat Irwaa-ul Ghalil II/163]
Bagaimana biar tidak marah? Ya… Jangan marah!
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari).
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shahih)
Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thabrani, Shahih)
Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”
Kebersihan adalah sebahagian dari iman dan bacaan hamdalah dapat memenuhi mizan (timbangan), dan bacaan subhanallahi walhamdulillah memenuhi kolong langit dan bumi, dan shalat adalah cahaya dan shadaqah adalah pelita, dan sabar adalah sinar, dan Al Quran adalah pedoman bagimu.
“
| — |
Diriwayatkan dari Malik Al Asy’ari dia berkata, Rasulullah SAW bersabda (hadist di atas)
HR Muslim
|
Sungguh di antara manusia itu ada yang menjadi kunci-kunci untuk mengingat Allah, yaitu yang jika dilihat wajahnya membuat orang menjadi ingat pada Allah.
Maukah kalian kukabarkan orang orang terbaik diantara kalian? Mereka adalah yang ketika dipandang wajahnya membuat orang mengingat Allah
“
| — |
HR Imam Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad
|
Sikap Bijak Terhadap Orang Bodoh
Dari Salamah bin Abdurrahman, dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang duduk di masjid, datanglah seorang Arab Badui dan berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah kesalahanku dan kesalahan Muhammad, dan janganlah Engkau mengampuni dosa orang lainnya.’”
Mendengar ucapan orang Badui itu, Nabi SAW tertawa, lalu bersabda, “Janganlah kamu menghalangi seseorang mendapatkan rahmat dari Allah SWT.”
Orang Arab itu berpaling hingga, ketika berada di sudut masjid, dia pun buang air kecil. Karena telah memahami ajaran Islam, selanjutnya dia pun mendatangi Rasulullah SAW untuk memberitahukannya.
Namun Nabi tidak mencaci dan memaki orang Badui itu. Rasulullah selanjutnya bersabda, “Sesungguhnya masjid itu hanya dibangun untuk zikir kepada Allah dan mendirikan salat. Karena itu, seseorang dilarang buang air kecil di masjid.”
Kemudian beliau menyuruh orang Arab Badui itu mengambil air dan menyiramkan ke tempat buang air kecil tersebut.
(Ibu Hibban)
SUMBER: ABU ISLAM AHMAD (AL-QALAM 2008).
Seorang Pemimpin Harus Siap Dicerca
Muhammad bin Abdullah al-Hadhrami menceritakan kepada kami hadis dari Abu Kuraib, “Suatu ketika Nabi Muhammad SAW menugasi seorang laki-laki untuk memimpin Perang Sariyyah (peperangan yang tidak dipimpin Nabi Muhammad SAW).”
Ketika lelaki itu kembali dari perang, Nabi bertanya, “Apa yang kamu lakukan saat menjadi pemimpin?”
Orang itu menjawab, “Saya bersikap seperti pemimpin lainnya. Apabila saya naik kendaraan, mereka mengikuti saya menaiki kendaraan. Dan, jika saya turun, mereka pun mengikuti saya.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang disebut seorang pemimpin adalah orang yang harus siap dicerca, kecuali yang selalu dijaga Allah SWT.”
Orang itu berkata, “Demi Allah, saya tidak akan bekerja lagi untukmu dan orang lain.” Mendengar ucapan itu, Nabi tertawa.
(Kitab Al-Mujamul Kubro) ● SUMBER: ABU ISLAM AHMAD (AL-QALAM 2008)